Skip to main content

Cerita Dari Kampung Singkong

Warna Warni - Masyarakat adat Cirendeu merdeka lahir batin dari ketergantungan beras. Bagi umumnya orang Asia, nasi sudah menjadi makanan wajib setiap hari. Tak terkecuali masyarakat Indonesia. Namun, jika bertandang ke pinggiran selatan Kota Cimahi, anda akan mendapati orang-orang yang sejak lahirnya tak pernah mengenyam nasi. Bertahun-tahun, mereka mengkonsumsi singkong atau ketela sebagai makanan pokok.

Komunitas unik ini bermukim di Kelurahan Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan. Kawasan ini dikenal dengan Kampung Adat Cirendeu. Kendati secara administratif masuk ke dalam wilayah kota, lokasi kampung tersebut cukup terisolasi alias jauh dari keramaian.

Cerita Dari Kampung Singkong
Untuk mencapainya, dari pusat Kota Cimahi kami harus menempuh medan dengan tanjakan dan turunan curam. Sesampainya di depan jalan masuk kampung, saya melihat papan penyambut bertuliskan dua baris kalimat dalam aksara Sunda. Wilujeung Sumping di Kampung Cirendeu Rukun Warga 10 yang artinya Selamat datang di Kampung Cirendeu RW 10.

Jalanan masuk kampung ini tidak bisa dilewati kendaraan roda empat. Saya pun harus memarkirkan mobil ini di depan kantor RW yang berada di luar area pemukiman warga. Salah seorang warga kemudian menyarankan saya menemui Ketua Kelembagaan Masyarakat Adat Kampung Cirendeu, Sudrajat.


Mengatasi Kelaparan

Saya dan Agung cukup berjalan kaki menuju rumah Jajat, sapaan akrab Sudrajat. Saat menyusuri kampung kecil ini, kami menjumpai rumah-rumah yang tidak berbeda dengan pemukiman pada umumnya. Perumahan di kawasan ini dibangun secara modern, yakni beratap genting dan berdinding semen.

Beberapa menit kemudian, kamu pun sampai di kediaman Jajat. Dari penuturan lelaki berumur 33 tahun itulah kami memperoleh informasi seputar kampung adat ini.

Kampung Cirendeu, terang dia, terdiri atas empat rukun tangga (RT) dan dihuni oleh  sekitar 300 kepala keluarga (KK). Tapi komunitas yang benar-benar konsisten menjalankan adat hanya 65 KK. Mereka terkonsentrasi di RT 2 dan 3. Warga yang bermukim di kedua RT tersebut umumnya adalah penganut kepercayaan tradisional atau disebut juga dengan Sunda Wiwitan.

“Pernah kejadian saat beberapa orang di antara kami mengurus KTP. Petugas di kantor dinas terkait sempat bingung, agamanya mau ditulis apa?” kisah Jajat. Pasalnya, kata dia, dari sekian banyak agama yang diakui secara resmi di negara ini, Sunda Wiwitan tidak tercantum. Akhirnya, sebagian warga di sini ada yang hanya ditulis tanda setrip pada bagian agama, sedangkan yang lainnya menggunakan istilah “aliran kepercayaan”.

Laki-laki itu sempat pula membawa kami melihat-lihat kebun singkong milik penduduk. Saya melihat sebuah tanah pekuburan di dekat kebun itu. Kata Jajat, di dalam area ini makam Muslim dan penganut Sunda Wiwitan letaknya berdampingan. Saya nyaris tak bisa membedakan mana pusara Muslim, mana yang bukan. Pasalnya, semua tampak sama. “Yang membedakan hanya isinya. Kalau jenazah Muslim, dikafani dulu sebelum dimakamkan, sedangkan yang Sunda Wiwitan dimasukkan ke dalam peti sebelum dikuburkan,” jelas Jajat.

Sekita 70 persen penduduk di kampung ini bermatapencaharian sebagai petani ketela. Hal ini tidak terlepas dari budaya masyarakat Cirendeu yang menjadikan tumbuhan tersebut sebagai makanan pokok. Setiap keluarga memiliki tiga sampai lima petak kebun ketela yang berbeda-beda masa tanamnya.

Menurut cerita yang diwarisi Jajat dari para tetua adat Cirendeu, sejarah singkong menjadi makanan utama di kamping berawal pada 1918. Kala itu, sawah-sawah milik penduduk setempat mengalami kekeringan, sehingga menyebabkan puso. Ditambah lagi, sektor pertanian saat itu kebanyakan dikuasai oleh tuan tanah dan pemerintan kolonial Hindia-Belanda.

Melihat kondisi tersebut, salah satu tokoh adat Cirendeu pada masa itu Haji Ali berusaha mencari jalan keluar supaya masyarakat tidak kelaparan. “Ia mulai berpikir, masyarakat tidak harus selalu bergantung pada beras atau padi. Ia ingin memerdekakan warga Cirendeu secara lahir dan batin,” imbuhnya.

Sejak itu, dicobalah bermacam-macam tanaman untuk menggantikan padi. Mulai dari sorgum, hanjeli, kacang-kacangan, hingga umbi-umbian. Pada akhirnya, Haji Ali mendengungkan kepada masyarakat kampung ini agar membudidayakan ketela pohon secara massal, alih-alih menanam padi di sawah. Pasalnya, tanaman ini bisa tumbuh tanpa mengenal waktu, baik pada musim kemarau maupun penghujan.


Dari Eggroll Sampai Dendeng Kulit Singkong

Pada 1924, singkong mulai dikonsumsi oleh masyarakat Cirendeu. Kebiasaan ini mulai menjadi budaya setelah Omah Asmanah, menantu Haji Ali mengolah ketela menjadi beragam makanan. “Ia adalah orang pertama yang memperkenalkan rasi alias beras singkong di Cirendeu,” terang Jajat. Bahan makanan ini diperoleh dengan cara menyaring dan menjemur ampas aci (tapioka).

Sampai sekarang, rasi(dalam bahasa sunda disebut sangeun) inilah yang dijadikan makanan pokok oleh masyarakat Cirendeu. Pada masa-masa selanjutnya, budaya ini ternyata menguntungkan masyarakat Cirendeu. Ketika harga beras dan kebutuhan pokok lainnya melambung, penduduk di kampung ini tidak ikut terpengaruh. Atas sumbangsih tersebut, pada 1964 Kawedanan Cimahi menganugerahi Omah penghargaan sebagai “Pahlawan Pangan”.

Ketahanan pangan yang dimiliki masyarakat Cirendeu tidak saja membuat kampung ini menarik perhatian lokal, tapi juga dari manca negara. Beberapa di antaranya adalah perwakilan dari Mozambik dan negara-negara ASEAN.

Kampung Cirendeu, kata Jajat lagi, telah mematahkan asumsi keliru yang pernah berkembang sebelumnya, yaitu mengkonsumsi singkong sebagai makanan pokok hanya dilakukan oleh orang-orang yang terbelakang secara sosial dan ekonomi. Buktinya, kehidupan masyarakat di kampung ini selalu mengikuti pola perkembangan zaman. Hal tersebut bisa dilihat dari segi desain rumah yang modern, hingga kesempatan warga mengenyam pendidikan tinggi. “Sekarang, kampung ini punya lima orang sarjana dan banyak pula yang masih kuliah,” tuturnya.

Jajat mengantar kami berkeliling Cirendeu. Wilayah pemukiman ini berdiri di atas tanah dengan kontur bergelombang. Pada area-area tertentu, pohon-pohon ini tumbuh meneduhi kawasan ini.

Tak jauh dari Balai Sarasehan, terdapat sebuah rumah yang menjadi tempat pembuatan beragam penganan berbahan ketela. Disini, singkong tak hanya diolah menjadi aci dan rasi, tapi juga bermacam-macam makanan ringan. “Ada kicipir,cheesestick, eggroll, cireng, dan opak bumbu. Bahkan, ada juga inovasi terbaru berupa dendeng kulit singkong,” papar Euis (51), seorang pengusaha snack singkong di kampung ini.  



Baca juga:
  1. Berkunjung Ke Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon
  2. Mengenal Kota Padang Panjang
  3. Legenda Dua Bocah Lelaki Di Musim Semi

Popular posts from this blog

Perjalanan Hidup Bob Sadino

Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.

Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lloyd di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indon…

Marie Tussaud : Kisah Pengukir Lilin Yang Mengabadikan Tokoh Dunia

Mendengar nama Madame Tussaud's, kita langsung terbayang museum penuh patung lilin yang wajib dikunjungi. Meski sang pendirinya menyimpan sebuah kisah kelam, jaringan museumnya senantiasa menawarkan kegembiraan dan inspirasi.
Hidup Marie Tussaud berawal ketika ia lahir dengan nama Anna Maria Grosholtz pada 1 Desember 1761, di tengah keluarga miskin di Perancis. Lingkungannya begitu miskin hingga orang-orang disana biasa menjual gigi mereka agar bisa membeli makan. Ayah Marie adalah seorang tentara, namun ia harus tewas terbunuh di tengah medan perang dua bulan sebelum putri kecilnya lahir. Sang ibu yang menjanda kemudian pergi ke Swiss untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ia mendapat pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang dokter bernama Phillipe Curtius. Dokter yang baik hati ini mengizinkan ibu Marie dan bayi perempuannya untuk tinggal di rumahnya. Sebagai seorang dokter, Curtius memiliki minat yang tidak biasa pada seni ukir lilin. Mulanya…

Kisah Louise Braille

Bagi kaum tunanetra sosok Louis Braille ini ibarat sosok Prometheus. Berkat perjuangan dari Louis Braille dalam menciptakan huruf yang kini kita kenal dengan huruf Braille ini Louis Braille membuka banyak mata para kaum tunanetra sehingga bisa 'melihat' dunia melalui tulisan. Mari kita simak kisah hidupnya..

Prometheus dalam mitologi Yunani adalah titan yang mencuri api milik para dewa yang kemudian diberikannya kepada manusia agar manusia bisa mengembangkan peradaban. Karakter kepahlawan yang seperti Prometheus ini bisa kita jumpai pada diri Louis Braille ini.

Kira-kira lebih dari 200 tahun yang lampau, di Perancis di sebuah desa kecil disana, hiduplah sebuah keluarga sederhana di sebuah rumah batu yang mungil. Simon Rene Braille, seorang kepala keluarga yang menghidupi istri dan empat orang anaknya dengan bekerja membuat pelana kuda dan sadelnya bagi para petani di daerahnya.

Pada 4 Januari 1809, lahirlah seorang anak terakhir dari keluarga Simon Rene Braille, yang diberi n…