Skip to main content

Legenda Dua Bocah Lelaki di Musim Semi

Legenda Dua Bocah Lelaki di Musim Semi
Alkisah, di negeri Cina, hiduplah dua sepupu bernama Liu Chen dan Yuan Chao. Mereka sangat akrab. Ke mana pun yang satu pergi, yang lain selalu mengikuti.

Kala musim semi tiba, ibu Lui Chen dan ibu Yuan Chao mengirim anak-anak mereka ke sungai untuk mengambil air. Kedua bocah ini pun berangkat membawa ember kosong.

Namun, setibanya di sungai, Lui Chen dan Yuan Chao terkagum-kagum melihat padang rumput yang indah di sekitarnya. Padang itu dipenuhi bunga-bunga yang sangat cantik.

"Kita main sebentar, yuk," ajak Liu Chen. Yuan Chao setuju. Maklum, mereka baru melewati musim dingin yang membuat mereka lama terkurung di rumah.

Maka, dua bocah lelaki ini meninggalkan ember mereka di dekat sungai, lalu berlari dan berkejaran di padang rumput. Mereka berjongkok untuk menghirup wangi bunga yang bermekaran, memanjat pohon, dan berlari naik turun bukit. Lui Chen dan Yuan Chao merasa sangat bahagia.

"Ayo, kita petik bunga-bunga ini untuk dibawa pulang dan kita berikan pada ibu kita," kata Lui Chen. Bersama sepupunya, ia lantas sibuk memilih bunga-bunga paling indah.

Karena asyik memetik bunga, kedua bocah ini tidak menyadari bahwa mereka sudah berjalan terlalu jauh dari sungai.

Saat sedang terus berjalan, Lui Chen dan Yuan Chao sampai di depan sebuah gua. Di depan pintu gua, ada dua sosok peri anggun yang duduk di atas batu besar. Peri-peri itu sedang bercakap-cakap.

Langkah Liu Chen dan Yuan Chao terhenti. Dua bocah ini tidak tahu harus berbuat apa, jadi mereka diam saja di tempat mereka sambil menatap peri-peri itu.

Tak lama, seekor kelinci muncul di depan mereka. Kelinci itu sibuk melompat-lompat. Ajaibnya, setiap kali kelinci itu melompat naik, bunga-bunga bermekaran di bawahnya. Sebaliknya, setiap kali hewan itu memijak tanah, bunga-bunga tersebut layu dan mati.

Naik dan turun, naik dan turun. Bunga-bunga bermekaran, lantas kembali layu.

Liu Chen dan Yuan Chao menyaksikan kelinci ini dengan takjub. Setelah waktu yang cukup lama, kelinci itu akhirnya hilang dari pandangan mereka.

Tiba-tiba, salah satu peri di depan gua menyadari keberadaan dua bocah itu. "Wahai anak-anak, sedang apa kalian di sini?" tanya peri pertama dengan kaget.

"Eh... kami... kami tadi sedang asyik memetik bunga, lalu tanpa sadar kami terbawa ke sini, " ujar Liu Chen. Sepupunya mengangguk mengiyakan.

"Sudah berapa lama kalian berada di sini?" tanya peri kedua/

"Sepertinya cukup lama," jawab Yuan Chao.

Peri pertama menatap peri kedua.

"Wah, celaka," katanya.

Peri kedua bangkit dan menghampiri Liu Chen dan Yuan Chao. "Anak-anak, karena kalian sudah cukup lama di sini, sebaiknya kalian jangan kembali ke desa, " ujarnya.

"Mengapa tidak boleh?" tanya Liu Chen.

"Percayalah, kalian akan menyesal jika kalian pulang ke rumah sekarang. Tinggallah di sini," kata peri kedua lagi.

Kedua bocah itu saling berpandangan. "Tapi, Peri, ibu kami menunggu kami. Kami harus membawa pulang ember berisi air sungai kepada mereka, " sahut Yuan Chao.

Dengan wajah sedih, peri pertama berkata, "Maaf Nak, tapi kalian tidak akan menemukan ibu kalian saat pulang nanti. Sebaiknya kalian tinggal di sini."

Kedua bocah itu menggeleng. "Tidak bisa. Keluarga kami pasti mencari-cari kami," kata Liu Chen.

"Mereka juga sudah tidak ada, " kata peri kedua.

"Kalau begitu, kami benar-benar harus pulang sekarang," Yuan Chao berkeras.

Kedua peri menghela napas. Akhirnya, peri pertama berkata, "Jika kalian berkeras ingin kembali, maka bawalah alang-alang ini." Ia lalu memberikan sebatang alang-alang kepada masing-masing anak.

Peri kedua menambahkan, "Kalau kalian mendapati segala sesuatu telah berubah di desa kalian, segeralah kembali ke sini. Jika gua ini sudah tertutup, lambaikan alang-alang itu, dan pintu gua akan terbuka."

Liu Chen dan Yuan Chao mengangguk. Mereka berterima kasih pada para peri, lantas berbalik dan berlari pulang.

Ketika tiba di sungai, mereka menyadari keanehan di sana. Hamparan bunga musim semi sudah berganti dengan pohon-pohon tinggi. Sungai yang tadi mengalir deras sudah mengering.

Kedua bocah itu mencari ember mereka, tapi tidak menemukannya. Saat panik mencari, mereka kehilangan alang-alang pemberian para peri.

"Sudahlah, kita tinggalkan saja ember-ember itu. Ayo, sabiknya kita segera pulang, " kata Liu Chen.

Yuan Chao setuju. Dua bocah itu pun berlari pulang. Sepanjang perjalanan, mereka menyadari banyak perubahan di sekitar mereka.

Saat tiba di desa, Liu Chen dan Yuan Chao tidak bisa menemukan rumah mereka. Alih-alih desa yang mereka kenal, kini di sana terhampar padang yang gersang. Tidak ada siap-siapa di situ, kecuali dua lelaki tua yang sedang duduk bermain catur.

"Permisi, " sapa Liu Chen. "Apakah Bapak tahu ke mana keluarga kami pindah?"

Kedua lelaki tua itu mengangkat kepala. "Siapa kalian?" tanya salah satu dari mereka.

"Kami adalah Liu Chen dan Yuan Chao."

Mendengar nama tersebut, kedua lelaki tua itu menggelengkan kepala tak percaya. "Jangan mempermainkan nama dua leluhur kammi," dengus salah satu bapak tua. "Kami adalah generasi ketujuh dari keturunan ketujuh dari nama-nama besar yang kalian sebutkan."

"Ta-tapi itu tidak mungkin, " kata Liu Chen. "Kami masih anak-anak."

Kebingungan, dua bocah tersebut mencoba memikirkan apa yang telah terjadi. Mereka teringat kelinci yang melompat naik turun dan bunga-bunga yang bermekaran dan layu di bawah kaki kelinci.

"Mungkin, setiap lompatan kelinci itu mewakili satu musim, " ujar Liu Chen.

"Kalau benar, berarti... kita sudah pergi ke sungai selama lebih dari beberapa jam," ujar Yuan Chao.

Mereka mencoba menghitung-hitung. Kelihatannya mereka tidak hanya pergi selama beberapa jam. Melihat banyaknya lompatan kelinci yang mereka saksikan, Liu Chen dan Yuan Chao sudah pergi selama... lebih dari 100 tahun!

Kedua bocah itu menggelengkan kepala. Ini mustahil.

Mereka kembali mendekati dua lelaki tua yang bermain catur.  "Tolonglah pak, kami adalah Liu Chen dan Yuan Chao," kata mereka lagi. "Pasti kalian kenal kami, atau orangtua kami."

Kini, dua lelaki tua itu benar-benar marah. Mereka berdiri dan menghardik, "Kalian ini anak-anak iseng ya?" Pergi sekarang juga, atau kami akan menghukum kalian karena telah mempermainkan nama nenek moyang kami!"

Melihat kemarahan kedua lelaki tua itu, Liu Chen dan Yuan Chao segera angkat kaki dan berlari secepat mungkin. Mereka terus berlari sampai tiba di depan gua para peri.

Mereka mendapati gue itu sudah tertutup.

"Kita butuh alang-alang!" Tapi, dua boca lelaki itu tidak ingat di mana mereka meletakkan tanaman pemberian peri itu.

Liu Chen dan Yuan Chao saling menatap dengan ketakutan. Mereka menggedor pintu gua yang tertutup rapat.

"Tolong biarkan kami masuk," mereka memohon sambil menangis. Akhirnya, kelelahan dan kelaparan, kedua bocah lelaki itu mengembuskan napas terakhir.

Penguasa alam semesta berbelas kasih pada mereka. Kedua bocah itu diangkat ke langit dan dijadikan dewa. Liu Chen dewa keberuntungan, Yuan Chao dewa kemalangan. Dan sejak hari itu, begitulah mereka dikenang.


Baca juga:
  1. Rubah Yang Lapar
  2. Pesan Di Balik Tawa Manusia Duyung
  3. Kartini Menerangi Indonesia

Popular posts from this blog

Perjalanan Hidup Bob Sadino

Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.

Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lloyd di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indon…

Vincent van Gogh : Pusaran Badai Hidup Sang Jenius Seni

Kisah Louise Braille

Bagi kaum tunanetra sosok Louis Braille ini ibarat sosok Prometheus. Berkat perjuangan dari Louis Braille dalam menciptakan huruf yang kini kita kenal dengan huruf Braille ini Louis Braille membuka banyak mata para kaum tunanetra sehingga bisa 'melihat' dunia melalui tulisan. Mari kita simak kisah hidupnya..

Prometheus dalam mitologi Yunani adalah titan yang mencuri api milik para dewa yang kemudian diberikannya kepada manusia agar manusia bisa mengembangkan peradaban. Karakter kepahlawan yang seperti Prometheus ini bisa kita jumpai pada diri Louis Braille ini.

Kira-kira lebih dari 200 tahun yang lampau, di Perancis di sebuah desa kecil disana, hiduplah sebuah keluarga sederhana di sebuah rumah batu yang mungil. Simon Rene Braille, seorang kepala keluarga yang menghidupi istri dan empat orang anaknya dengan bekerja membuat pelana kuda dan sadelnya bagi para petani di daerahnya.

Pada 4 Januari 1809, lahirlah seorang anak terakhir dari keluarga Simon Rene Braille, yang diberi n…