Skip to main content

Pesan Dibalik Tawa Manusia Duyung

Alkisah, di pinggir kota pelabuhan bernama Hofn, Iceland, hiduplah seorang nelayan bersama istrinya. Setiap hari, nelayan itu mengayuh perahunya ke laut untuk menjala ikan. Kadang ia beruntung, kadang tidak terlalu beruntung.


Nelayan itu pernah mendengar kabar bahwa di daerah tempat tinggalnya terpendam satu peti emas. Namun, ia tidak tahu di mana harta itu berada. Tidak mungkin kan, dia menggali setiap jengkal tanah di sekitar rumahnya? Akhirnya, sang nelayan hanya memendam impian agar bisa menemukan emas tersebut dan ia tidak perlu bersusah-payah menjala ikan setiap hari.

Suatu kali, seperti biasa nelayan itu menebar jala ikannya ke tengah laut. Tak lama, ia merasakan sentakan kuat. Nelayan itu langsung bersemangat. Ia membatin, “Hari ini aku pasti dapat ikan besar!”.

Nelayan itu mulai menarik jala ikannya. Semakin lama, jala tersebut terasa semakin berat, jauh lebih berat dari biasanya. Nelayan itu menarik dengan segenap tenaga, sampai akhirnya isi jala tersebut tampak olehnya. Betapa terkejutnya nelayan itu ketika melihat bahwa bukan ikan yang ia tangkap, melainkan sesosok pria dengan kepala dan tubuh manusia, namun kakinya berbentuk ekor ikan.
“Siapa kamu?” tanya nelayan itu, terheran-heran melihat sosok ganjil tersebut. Ia pernah mendengar tentang manusia duyung, yang bertubuh separuh manusia dan separuh ikan. Namun, ia kira makhluk tersebut hanya berada di dalam dongeng. Nelayan itu tak pernah menyangka bahwa manusia duyung benar-benar ada, dan bahwa dia akan bertemu langsung dengan salah satunya.

Manusia duyung itu melihat keraguan si nelayan, ia pun membuka mulut dan berbicara, “Wahai nelayan, aku adalah manusia duyung yang berasal dari dasar lautan. Karena engkau sudah melihatku dengan mata kepalamu sendiri, engkau harus percaya bahwa kami memang ada.”

“Tapi kenapa kau bisa terjerat di dalam jala ikanku?” tanya nelayan itu penasaran. Dalam berbagai cerita yang ia pernah dengar tentang manusia duyung, ia tahu bahwa makhluk itu selalu menghindari manusia.

“Aku tadi sedang lengah,” si manusia duyung mengaku. “Sekarang, tolong lepaskan aku. Aku tidak bisa hidup di darat. Keluargaku menungguku di dasar laut.”

Nelayan itu berpikir sejenak. Ia mencoba mengingat cerita-cerita yang pernah ia dengar tentang manusia duyung. Aha! Menurut salah satu cerita tersebut, manusia duyung bisa memberi hadiah yang bernilai pada manusia. Nelayan itu memutuskan untuk tidak melepaskan manusia duyung tersebut. Tidak sebelum ia mendapatkan hadiah.

“Aku ingin hadiah,” kata nelayan itu.

Manusia duyung itu tak langsung menjawab. Ia melihat alam di sekitarnya. Ada rubah kutub berlarian di atas rumput, ada rusa sedang minum di tepi air, dan ada burung puffin yang bersantai di sarangnya di atas tebing. Alam di atas laut memang indah, tapi ini bukan dunianya. Ia seharusnya berada di bawah laut.

Selagi manusia duyung berpikir, nelayan itu mengangkutnya ke atas kapal. “Aku akan membawamu ke darat, untuk melihat apa yang bisa aku dapatkan darimu.”

Sang nelayan mengikat manusia duyung ke perahunya dan mengayuh perahu itu ke tepi pantai.
Setibanya di pantai, seekor anjing tampak berlari menyongsong mereka dengan gembira. Anjing itu adalah milik si nelayan. Melihat tuannya pulang hewan itu menggonggong riang dan meloncat-loncat penuh semangat.

Namun, alangkah sedihnya, nelayan itu malah mengacuhkan anjingnya karena ia merasa tidak punya waktu untuk bermain-main. Si nelayan bahkan mengusir anjingnya agar tidak menghalangi jalannya.
Merasa sedih karena diabaikan, ekor anjing itu terkulai. Kepala hewan itu tertunduk lesu dan ia berjalan pergi. Manusia duyung yang menyaksikan semua itu mendadak tertawa keras. Namun, si nelayan terlalu sibuk menambatkan perahunya sehingga ia tidak memperhatikan tawa manusia duyung tersebut.

Ketika kapal sudah tertambat dengan aman, nelayan itu menjulurkan kedua lengannya ke atas kapal dan mengangkat manusia duyung ke atas pundaknya. Ia berencana untuk berjalan sambil memanggul manusia duyung tersebut sampai ke rumahnya di atas bukit. Ini bukan hal yang mudah karena manusia duyung itu bertubuh besar.

Ketika si nelayan berjalan mendaki bukit menuju rumahnya, ia tersandung gundukan tanah. Hampir saja ia terjatuh. Karena kesal, nelayan itu memaki gundukan tanah tersebut. Lagi-lagi manusia duyung melakukan hal aneh lagi, ia tertawa keras kembali.

Sayang, nelayan tersebut begitu fokus membopong manusia duyung yang berat itu, sehingga ia tidak terlalu memikirkan tawa yang tidak pada tempatnya itu.

Ketika nelayan akhirnya tiba di rumah, istrinya keluar untuk menyambutnya, “Oh suamiku, betapa aku merindukan dirimu selama kau pergi!” kata wanita itu.

Di pundak nelayan, manusia duyung kembali tertawa keras. Kali ini, nelayan itu merasa terganggu. Ia bertanya pada manusia duyung, “Kenapa sih kau selalu tertawa? Memang ada yang lucu?”

“Aku hanya tertawa tiga kali kok,” sahut manusia duyung.
“Tapi kenapa kau tertawa? Apa yang kau tertawakan?” tanya si nelayan.
“Aku tertawa setiap kali kau bertingkah seperti orang bodoh,” sahut manusia duyung.
“Pertama kali aku tertawa karena kau mengacuhkan anjing peliharaanmu yang begitu menyayangimu. Hanya orang bodoh yang mengabaikan kasih sayan. Kedua kali aku tertawa karena engkau memaki gundukan tanah, padahal di bawah tanah itu terdapat seperti emas, dan hanya orang bodoh yang mengutuk harta berharga. Kali ketiga aku tertawa karena mendengar kata-kata yang diucapkan oleh istrimu. Dia hanya berpura-pura mencintaimu, dan hanya orang bodoh yang tertipu oleh kepura-puraan.”

“Sekarang, berhentilah jadi orang bodoh. Jadilah orang yang benar dan bebaskan aku,” jelas manusia duyung itu panjang lebar.

Nelayang itu merenungkan kata-kata manusia duyung. “Meski sulit dipercaya apa yang kau katakan memang benar,” kata si nelayan. “Engkau benar tentang anjing peliharaanku. Dia memang sangat menyayangiku. Sekarang, mari kita lihat apakah memang ada sepeti emas di bawah gundukan tanah tadi.”

Dengan membopong manusia duyung di pundaknya, kali ini nelayan tersebut berjalani menuruni bukit, menuju tempat ia sempat tersandung. Setibanya disana, ia mengikat manusia duyung itu ke pohon, lantas mulai menggali. Tak lama kemudian, nelayan itu menemukan sepeti emas, persis seperti yang dikatakan manusia duyung.

“Ternyata kata-katamu tepat! Baik, aku akan melepaskanmu!” ujar si nelayan. Ia membuka ikatan manusia duyung, membawanya kembali ke perahunya, lantas mengayuh perahu itu ke tengah laut. Di sana, nelayan tersebut melepaskan si manusia duyung.

Sebelum sosoknya lenyap di bawah air, manusia duyung itu berkata pada si nelayan, “Engkau telah bertindak benar. Aku akan memberimu hadiah. Ingat kawan! Jangan lagi jadi orang bodoh!”.

Manusia duyung itu menghilang, dan sedetik kemudian, muncul seekor sapi laut berwarna abu-abu dari dalam laut. Sapi laut itu berenang ke tepi pantai seiring dengan perahu nelayan. Setibanya di pantai, nelayan mendapati bahwa sapi laut itu berjenis kelamin betina, dan hewan itu begitu jinak dan menghasilkan banyak susu. les bahasa inggris jakarta

Kini, sang nelayan telah menjadi pria paling kaya di Hofn. Sapi laut tersebut menjadi induk dari sapi darat warna abu-abu yang saat ini hidup di Iceland.

Bagaimana nasib istri nelayan? Tak ada yang tahu! Yang pasti, sejak itu, jika ada yang berhasil menangkap manusia duyung, ia akan mendengarkan pesan di balik tawa makhluk tersebut.   


Sumber : Majalah Media Kawasan, April 2013

Popular posts from this blog

Perjalanan Hidup Bob Sadino

Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.

Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lloyd di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indon…

Marie Tussaud : Kisah Pengukir Lilin Yang Mengabadikan Tokoh Dunia

Mendengar nama Madame Tussaud's, kita langsung terbayang museum penuh patung lilin yang wajib dikunjungi. Meski sang pendirinya menyimpan sebuah kisah kelam, jaringan museumnya senantiasa menawarkan kegembiraan dan inspirasi.
Hidup Marie Tussaud berawal ketika ia lahir dengan nama Anna Maria Grosholtz pada 1 Desember 1761, di tengah keluarga miskin di Perancis. Lingkungannya begitu miskin hingga orang-orang disana biasa menjual gigi mereka agar bisa membeli makan. Ayah Marie adalah seorang tentara, namun ia harus tewas terbunuh di tengah medan perang dua bulan sebelum putri kecilnya lahir. Sang ibu yang menjanda kemudian pergi ke Swiss untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ia mendapat pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang dokter bernama Phillipe Curtius. Dokter yang baik hati ini mengizinkan ibu Marie dan bayi perempuannya untuk tinggal di rumahnya. Sebagai seorang dokter, Curtius memiliki minat yang tidak biasa pada seni ukir lilin. Mulanya…

Kisah Louise Braille

Bagi kaum tunanetra sosok Louis Braille ini ibarat sosok Prometheus. Berkat perjuangan dari Louis Braille dalam menciptakan huruf yang kini kita kenal dengan huruf Braille ini Louis Braille membuka banyak mata para kaum tunanetra sehingga bisa 'melihat' dunia melalui tulisan. Mari kita simak kisah hidupnya..

Prometheus dalam mitologi Yunani adalah titan yang mencuri api milik para dewa yang kemudian diberikannya kepada manusia agar manusia bisa mengembangkan peradaban. Karakter kepahlawan yang seperti Prometheus ini bisa kita jumpai pada diri Louis Braille ini.

Kira-kira lebih dari 200 tahun yang lampau, di Perancis di sebuah desa kecil disana, hiduplah sebuah keluarga sederhana di sebuah rumah batu yang mungil. Simon Rene Braille, seorang kepala keluarga yang menghidupi istri dan empat orang anaknya dengan bekerja membuat pelana kuda dan sadelnya bagi para petani di daerahnya.

Pada 4 Januari 1809, lahirlah seorang anak terakhir dari keluarga Simon Rene Braille, yang diberi n…