Skip to main content

Nyanyian Si Burung Penuntun Madu

Di Afrika, ada burung unik bernama honeybird atau burung penuntun madu. Burung kecil ini berjasa “menuntun” manusia ke sarang lebah penghasil madu lewat kicauannya. Inilah legenda di balik nyanyian burung tersebut.
Dahulu kala, di selatan Afrika, hiduplah kakak beradik bernama Thulani dan Tithembile. Meski bersaudara, mereka memiliki sifat yang jauh berbeda. Thulani adalah anak yang penakut, sedangkan Tithembile lebih pemberani dan suka bertualang.
Suatu hari, desa kecil tempat tinggal Thulani dan Tithembile dilanda kelaparan. Sudah berhari-hari warga desa tidak berhasil menemukan hewan buruan untuk dimakan. Thulani dan Tithembile ingin bisa membantu. Mereka memutuskan untuk berjalan kaki keluar dari desa dan mencari makanan, sejauh apa pun jarak yang mereka tempuh.
Untuk waktu lama, kedua bocah tersebut berjalan melintasi padang rumput yang gersang, lantas tiba di wilayah padang belukar yang jarang didatangi orang. Rerumputan liar di sana tumbuh tinggi, tak ada manusia maupun hewan yang tampak, dan Thulani mulai ketakutan. “Sebaiknya kita tidak berjalan lebih jauh lagi,” katanya pada Tithembile.
Tapi, bukan Tithembile namanya kalau tidak bersikap berani. Ia ingin terus berjalan karena yakin akan menemukan makanan bagi desa mereka.
Mendadak, terdengar suara kicauan burung. Tithembile mendongak ke atas, menatap burung kecil warna coklat yang muncul tanpa diduga. “Hei, lihat, burung ini mengajak kita mengikutinya,” kata Tithembile.
Thulani menggelengkan kepalanya. “Jangan dengarkan burung itu. Aku takut kita bakal tersesat.”
Tetapi Tithembile berjalan terus mengikuti burung kecil tersebut, meninggalkan adiknya yang penakut di belakang. Tithembile terus berjalan sampai bertemu dengan sebuah kendi dari tanah liat dalam posisi terbalik. Di situ, burung tersebut terbang rendah dan mengitari kendi tersebut.
Pada saat itu, Thulani telah berlari mengejar kakaknya, tapi ketika ia melihat kendi terbalik itu, ia kembali diserang rasa takut. “Ayo, kita tinggalkan saja tempat ini,” bisiknya pada sang kakak. Tapi mata Tithembile terpaku pada burung kecil yang terus terbang memutari kendi itu.
Bocah itu berlutut dan bertanya, “Apa yang kau inginkan, burung mungil?”. Sebagai jawabnya, burung itu mulai bernyanyi. Suaranya merdu sekali.
Tithembile menjulurkan tangan dan membalik kendi itu. Dari dalamnya, keluarlah seekor ular yang sangat besar. Sebelum kedua bocah itu sempat bereaksi, ular tersebut membuka mulut dan berbicara, “Ikuti aku,” desisnya.
Dengan gemetar, Thulani menangis, “Tidak! Kakak, kita harus lari, sekarang juga!”.
Namun Tithembile merasa penasaran. Ia pun mengikuti ular tersebut masuk semakin jauh ke dalam padang belukar sampai mereka tiba di depan sebatang pohon akasia. Sebuah kapak tersangkut di tengah-tengah pohon itu.
“Potonglah pohon itu, “ perintah si ular.
Tithembile langsung memegang kapak erat-erat, lantas mencabut dan mengayunkannya ke batang pohon. Tak disangka, ayunan pertama membuat seekor sapi keluar dari tengah batang pohon. Ayunan berikutnya membuat seekor domba keluar. Dengan setiap ayunan kapak, hewan-hewan terus keluar dari batang pohon, hingga tak lama kemudian Tithembile sudah dikelilingi sekumpulan besar hewan ternak.
“Sekarang, giring hewan-hewan ini pulang ke desamu,” kata ular tersebut. “Jangan lupakan jasa burung kecil yang telah membebaskan aku, sehingga aku bisa memberikan hadiah ini kepadamu.”
Tithembile mengangguk. “Terima kasih,” katanya. Lalu ia berbisik dan menggiring hewan-hewan itu pulang.

Ketika Thulani melihat kakaknya datang diiringi sekelompok besar hewan, ia terheran-heran.
“Lihat kan, adikku,” ujar Tithembile, “tidak ada alasan untuk merasa takut.”
Ia kemudian menceritakan apa yang telah terjadi pada adiknya. “Mulai sekarang, kita harus berjanji bahwa setiap kali ada seekor burung kecil warna coklat menghampiri kita, kita harus mendengarkan dan mengikuti ajakannya.”
Thulani mengangguk-angguk, tapi yang ada di pikirannya bukanlah burung kecil yang telah berjasa, melainkan keserakahan. Ya, hati Thulani kini dipenuhi rencana jahat untuk merebut hewan-hewan itu dari kakaknya, supaya warga desa mengelu-elukan dirinya dan bukan Tithembile.
Kakak beradik itu berjalan pulang bersama-sama. Tak lama, hewan-hewan tersebut mulai melenguh dan mengembik karena kehausan.
“Kita harus menemukan sumber air,” ujar Tithembile. Thulani setuju, karena lehernya juga terasa amat kering.
Tak lama, mereka tiba di sebuah tepi tebing yang curam. Di bawah tebing itu, mengalir sungai dengan air yang jernih, Tithembile punya ide. Dengan tali yang mereka bawa, mereka akan mengikat tubuh satu sama lain, lantas bergantian menurunkan diri ke bawah untuk minum.
Thulani mendapat giliran pertama. Dengan tali terikat erat di pinggangnya, kakaknya menurunkannya ke tepi sungai. Setelah ia puas minum, Tithembile menariknya ke atas. Tiba giliran Tithembile, begitu ia sudah menurunkan kakaknya ke sungai, Thulani melihat kesempatan untuk melaksanakan niat jahatnya.
“Aku akan meninggalkan Tithembile di bawah supaya aku bisa pulang bersama hewan-hewan ini dan menjadi pahlawan desa!” batin Thulani.
Setelah Tithembile turun ke sungai, Thulani melempar ujung tali bagiannya ke bawah, lantas ia berlari pulang.
Ketika Thulani sampai, warga desa terkejut melihat bocah itu pulang membawa banyak hewan. Rasa terkejut itu tak lama berubah menjadi kebahagiaan karena akhirnya mereka bisa makan. Thulani pun dipuja-puji.
“Tapi, dimana Tithembile?” tanya mereka, cemas.
Thulani angkat bahu. “Tadi ia kelelahan di jalan, lalu memutuskan untuk berhenti dan beristirahat. Nanti juga ia pulang.”
Tentu saja, hingga malam tiba, Tithembile belum juga kembali. Namun, tak ada yang mencurigai Thulani. Apalagi, Tithembile dikenal sebagai petualang yang pemberani. Warga desa yakin, bocah itu pasti akan kembali.
Esok harinya, para wanita desa pergi mencuci pakaian di sungai. Tak biasanya, pagi itu mereka melihat seekor burung kecil warna coklat yang terbang berputar-putar di atas kepala mereka sambil berkicau.
“Lihat, burung ini ingin kita mengikutinya,” seru salah seorang wanita yang hendak mencuci. “Ayo, kita panggil lelaki di desa untuk ikut.” les bahasa inggris anak
Tak lama kemudian, sebagian besar warga desa sudah keluar dari rumah mereka karena penasaran mendengar tentang seekor burung yang bisa menuntun mereka ke suatu tempat. Mereka semua mengikuti burung itu hingga tiba di tebing di atas sungai. Di sana, sang burung kecil bernyanyi sekuat tenaga, lantas terbang ke bawah dan mendarat di kaki Tithembile.
Alangkah terkejutnya para penduduk desa saat melihat Tithembile ada di bawah tebing curam. Dengan sigap, para lelaki menurunkan tali tambang untuk menyelamatkan Tithembile.
Setelah kembali berada di atas tebing, Tithembile menuturkan kisah pengkhianatan adiknya. Namun, ia melarang penduduk desa menghukum Thulani. Sebaliknya, ia mengajak warga memikirkan cara berterima kasih atas jasa si burung kecil.
Meski begitu, Thulani yang mendengar bahwa kakaknya telah ditemukan  memutuskan untuk kabur dari desa itu dan tak pernah kembali. Sebagai gantinya, burung kecil tersebut kini tinggal bersama warga desa dan dipelihara dengan baik. Ternyata, burung tersebut juga pintar menemukan sarang lebah madu, sehingga warga menjulukinya honeybird alias burung penuntun madu.
Sejak itu, setiap kali burung penuntun madu bernyanyi, warga Afrika yang mendengarnya akan mengikuti ajakannya.

Popular posts from this blog

Perjalanan Hidup Bob Sadino

 Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.

Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lloyd di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indon…

Marie Tussaud : Kisah Pengukir Lilin Yang Mengabadikan Tokoh Dunia

Mendengar nama Madame Tussaud's, kita langsung terbayang museum penuh patung lilin yang wajib dikunjungi. Meski sang pendirinya menyimpan sebuah kisah kelam, jaringan museumnya senantiasa menawarkan kegembiraan dan inspirasi.
Hidup Marie Tussaud berawal ketika ia lahir dengan nama Anna Maria Grosholtz pada 1 Desember 1761, di tengah keluarga miskin di Perancis. Lingkungannya begitu miskin hingga orang-orang disana biasa menjual gigi mereka agar bisa membeli makan. Ayah Marie adalah seorang tentara, namun ia harus tewas terbunuh di tengah medan perang dua bulan sebelum putri kecilnya lahir. Sang ibu yang menjanda kemudian pergi ke Swiss untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ia mendapat pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang dokter bernama Phillipe Curtius. Dokter yang baik hati ini mengizinkan ibu Marie dan bayi perempuannya untuk tinggal di rumahnya. Sebagai seorang dokter, Curtius memiliki minat yang tidak biasa pada seni ukir lilin. Mulanya…

Kisah Louise Braille

Bagi kaum tunanetra sosok Louis Braille ini ibarat sosok Prometheus. Berkat perjuangan dari Louis Braille dalam menciptakan huruf yang kini kita kenal dengan huruf Braille ini Louis Braille membuka banyak mata para kaum tunanetra sehingga bisa 'melihat' dunia melalui tulisan. Mari kita simak kisah hidupnya..

Prometheus dalam mitologi Yunani adalah titan yang mencuri api milik para dewa yang kemudian diberikannya kepada manusia agar manusia bisa mengembangkan peradaban. Karakter kepahlawan yang seperti Prometheus ini bisa kita jumpai pada diri Louis Braille ini.

Kira-kira lebih dari 200 tahun yang lampau, di Perancis di sebuah desa kecil disana, hiduplah sebuah keluarga sederhana di sebuah rumah batu yang mungil. Simon Rene Braille, seorang kepala keluarga yang menghidupi istri dan empat orang anaknya dengan bekerja membuat pelana kuda dan sadelnya bagi para petani di daerahnya.

Pada 4 Januari 1809, lahirlah seorang anak terakhir dari keluarga Simon Rene Braille, yang diberi n…